Selasa, 22 Desember 2009

imsak dan infak

Perkembangan tersebut semakin membuktikan akan kebenaran Al Qur’an ini dan bahwa Al Qur’an ini adalah solusi alternatif di dalam mengentas problematika-problematika kehidupan manusia.

( 2 ) ANTARA IMSAK DAN INFAK

Berkata Hasan Basri : “ Sesungguhnya kalian tidak akan bisa meraih apa yang anda inginkan kecuali kalau kalian mampu meninggalkan sesuatu yang menyenangkan , dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cita-citakan kecuali dengan bersabar dengan sesuatu yang kaliantidak senangi “ [3]

Perkataan Hasan Basri di atas telah memberikan isyarat bagi kita tentang tata cara menapak tangga-tangga prestasi. Beliau memberikan dua jalan untuk mencapai sebuah prestasi yaitu dengan : Imsak ( Menahan Diri dari hal-hal yang melalaikan ) dan Infak ( Mengorbankan/ menginfakkan apa yang dicintainya ) .

Untuk Infak telah disebutkan pada ayat 9 dari Surat Ali Imran di atas. Adapun Imsak disebutkan Allah pada ayat lain, yaitu dalam surat Al Nazi’at, ayat : 37- 41 : « Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya ( Al Nazi’at, ayat : 37- 41 «)

Kamis, 26 November 2009

KEUTAMAAN SEDEKAH

KEUTAMAAN SEDEKAH


"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (2:271)

"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak."
(57:18)


Hukum Sebab-Akibat SEDEKAH itu bukan untuk orang Islam saja Gan, tapi Universal / Sunnatullah di dunia ini.

”Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah BERSEDEKAH dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (65:7)

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (2:276)



KUMPULAN HADITS SEDEKAH

1. Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al Hakim)

2. Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal bakti). (HR. Ath-Thahawi)

3. Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya. (HR. Muslim)

4. Allah Tabaraka wata’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi): “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

5. Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka. (HR. Bukhari)

6. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Sodaqoh yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi Saw menjawab, “Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

7. Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

8. Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq’alaih)

9. Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)

10. Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani)

11. Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)

12. Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)

13. Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi Saw menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

14. Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberi pahala walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu. (HR. Bukhari)

15. Sodaqoh paling afdhol ialah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

16. Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi Saw menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disodaqohkannya. (HR. An-Nasaa’i)

17. Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)

18. Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.” Kemudian nabi Saw membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari)

19. Tiada suatu kaum menolak mengeluarkan zakat melainkan Allah menimpa mereka dengan paceklik (kemarau panjang dan kegagalan panen). (HR. Ath-Thabrani)

20. Barangsiapa memperoleh keuntungan harta (maka) tidak wajib zakat sampai tibanya perputaran tahun bagi pemiliknya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Penjelasan:
Perhitungan perputaran tahun (haul) untuk menunaikan zakat ialah dengan tahun Hijriyah.

21. Tentang sodaqoh yang seakan-akan berupa hadiah, Rasulullah Saw bersabda: “Baginya sodaqoh dan bagi kami itu adalah hadiah.” (HR. Bukhari)

22. Allah Ta’ala mengharamkan bagiku dan bagi keluarga rumah tanggaku untuk menerima sodaqoh. (HR. Ibnu Saad)

Penjelasan:
Nabi Saw menolak menerima sodaqoh tetapi mau menerima hadiah.

23. Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

24. Allah mengkhususkan pemberian kenikmatanNya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

25. Abu Dzarr Ra berkata bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang yang banyak hartanya memperoleh lebih banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi Saw lalu berkata, “Bukankah Allah telah memberimu apa yang dapat kamu sedekahkan? Tiap-tiap ucapan tasbih adalah sodaqoh, takbir sodaqoh, tahmid sodaqoh, tahlil sodaqoh, amar makruf sodaqoh, nahi mungkar sodaqoh, bersenggama dengan isteri pun sodaqoh.” Para sahabat lalu bertanya, “Apakah melampiaskan syahwat mendapat pahala?” Nabi menjawab, “Tidakkah kamu mengerti bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala. (HR. Muslim)

26. Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad)

27. "Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali BERTAMBAH, BERTAMBAH, BERTAMBAH.” (diulang 3x) (Al Hadits)


Sumber: 1100 Hadits Nabi SAW Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) -
Karya Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press:

Kamis, 15 Oktober 2009

Mantaph nieh.. penjelasan ikhlas,,t api sumber nya ga tau dari siapa. mudah2an bukan dari syaithonn.. haha

Ikhlas itu Berat
Oleh Andi Sumangelipu • 6th Feb, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:4,642 views •Kirim:Email This Post Email This Post

Menerima sesuatu tentu lebih mudah dibandingkan memberi. Seperti itu pula sebuah pepatah mengatakan “tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Berada di posisi “diatas” berkonotasi kepada yang lebih mulia. Maka mulialah orang-orang yang senantiasa membiasakan diri untuk memberi. Memberi sesuatu kepada orang lain adalah sesuatu yang berat. Sementara dalam keseharian kita senantiasa dituntut untuk memberi. Baik dari sudut tuntunan agama, maupun pertimbangan tuntutan hidup sosial.

Memberi sesuatu kepada orang lain bisa berupa apa saja. Harta benda, jasa, atau sekedar senyum tulus, dsb. Suatu agama atau keyakinan senantiasa menganjurkan penganutnya untuk memberi sebagai salah satu bentuk ibadah atau darma dan pengabdian. Memberi sesuatu kepada orang lain juga merupakan salah satu cara membangun jaringan hablun minal annas dan menciptakan silaturrahim. Memberi menjadi suatu penyeimbang dalam kehidupan sosial secara moril maupun materiil.

Bersedekah, berinfaq, berzakat, memberi hadiah dan bantuan jasa adalah varietas wujud dari memberi. Sukarela, tulus, ridho, ikhlas adalah sesuatu yang harus melandasi “memberi” agar dia bernilai, baik secara sosial maupun spritual. Sehingga sebahagian orang menganggap percuma suatu pemberian jika tidak dilandasi dengan hati ikhlas.

Sebenarnya bagaimanakah ikhlas itu? Jika melihat pengemis di pinggir jalan, lalu memberinya sejumlah uang atau apa saja yang ada pada kita atas dasar rasa iba dan kasihan misalnya. Itu masih sangat manusiawi. Dan belum tentu masuk kategori ikhlas. Memang terkadang kita mengenal ‘ikhlas’ atau kerelaan hati sebagai wujud cerminan dari rasa iba atau kasihan. Pernahkah kita memberi sesuatu kepada seseorang tanpa harus tahu kita kasihan atau tidak? May be yes..,may be not!

Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa memberi sesuatu lantaran adanya sebab, seperti kasihan, prihatin, iba dsb, itu belum bisa dikategorikan sebagai ikhlas. Namun tidak lebih sebagai suatu bentuk kerelaan atau ketulusan hati saja yang bisa menjadi sebagai pemuasan hawa nafsu ego kasihan atau ego iba kita. Namun memberi atas dasar rasa kasihan atau iba pun itu sudah cukup baik. Terlebih lagi jika kita bisa berlaku ikhlas.

Berlaku ikhlas memang berat. Jika dalam memberi sesuatu masih mudah, ringan dan enteng berarti kita belum masuk dalam kategori ikhlas tapi baru sekedar rela atau tulus. Dalam memberi sesuatu kepada orang lain terkadang muncul rasa berat dalam hati kita karena berbagai faktor dan alasan. Alasan itu bisa disebabkan kurangnya biaya hidup, Tanggal tua, Lagi membutuhkan. Namun tetap saja mencoba menyisihkan untuk memberi meskipun sedikit karena dilandasi semata-mata atas nama Tuhan. Dan rasa berat itu kita ikhlas-kan meskipun masih terkesan disabar-sabarkan. Inilah yang lebih dimaksudkan sebagai ikhlas. Sekali lagi karena dia berat.

Ada perbedaan antara ikhlas dan tulus. Ikhlas itu, merelakan sesuatu yang terasa berat. Tulus itu adalah kerelaan hati karena faktor adanya rasa senang atau tidak ada beban.
Ikhlas memiliki kedudukan atau derajat yang tinggi di mata Tuhan. Sehingga salah-lah orang yang mengatakan: percuma saja melakukan ini-itu jika tidak ikhlas. Persepsi orang selama ini terbalik, jika orang terlihat berat membantu atau memberi sesuatu disebut ‘tidak ikhlas’ dan begitu pula sebaliknya. Berbuat ikhlas meskipun berat, seorang mukhlis senantiasa dilandasi dengan nama Sang Maha Pencipta.

Selasa, 01 September 2009

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
Muhammad ‘Ali bin Ismail Piliang Al Medani
[SALAFY XXIX/1419/1999/MUSLIMAH]


Ayah dan ibu adalah dua orang yang sangat berjasa kepada kita. Lewat keduanyalah kita terlahir di dunia ini. Keduanya menjadi sebab seorang anak bisa mencapai Surga. Do’a mereka ampuh. Kutukannya juga manjur. Namun betapa banyak sekarang ini kita jumpai anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Panti jompo menjamur di mana-mana, ini menunjukkan tidak mengertinya sang anak akan 'harga' kedua orang tua. Mereka titipkan kedua orang tuanya di sana dalam keadaan sengsara dan kesepian melewati masa-masa tuanya, sementara mereka bersenang-senang di rumah mewah.
Kejadian seperti ini juga akibat kesalahan orang tua yang tidak memberikan
pendidikan agama kepada anaknya.
Nash yang berbicara tentang perintah dan anjuran berbuat baik kepada
kedua orang tua :

Dari Al Qur’anul Karim
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua … .” (An
Nisa’ : 36)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat di atas : “Kemudian
(setelah menyuruh bertauhid, pent.) Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi
wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah menjadikan
mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi
‘ada’. Dan banyak sekali Allah menggandengkan perintah beribadah kepada-
Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua.”
Katakanlah : “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh
Rabb kalian, yaitu janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan
berbuat baiklah terhadap kedua orang tua.” (Al An’am : 151)
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali
kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah
mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu
membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih
sayang dan ucapkanlah : “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al Isra’ :
23-24)
“Dan Kami wajibkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu
mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kalian kembali lalu Aku
khabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (Al Ankabut : 8)
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya : “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan-Nya itu adalah kedhaliman yang
besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada
kedua orang tua, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah
kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku
dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah
kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik
dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-
Ku-lah kalian kembali maka Ku-beritahukan kepada kalian apa yang telah
kalian kerjakan. (Luqman : 13-15)
Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang
tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan
melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia dewasa dan
umurnya telah sampai empat puluh tahun, ia berdoa : “Ya Rabbku,
tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat
amal shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi
kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku termasuk orang yang
berserah diri.” Mereka inilah orang-orang yang Kami terima dari mereka
amalan yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahankesalahan
mereka bersama penghuni-penghuni Surga sebagai janji yang
benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al Ahqaf : 15-16)
Ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang agung di atas memberikan
pelajaran kepada kita betapa besarnya kedudukan kedua orang tua. Kita
wajib mematuhi keduanya selama keduanya menyuruh kepada kebaikan dan
ketaatan kepada Allah.

Dari Hadits-Hadits Khairul Anam (Rasulullah, ed.)
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Ridla Allah terletak pada ridla
orang tua. Dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan orang tua.” (HR.
Tirmidzi 1899, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)
‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash berkata : Datang seseorang kepada Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian dia meminta ijin kepada beliau untuk
berjihad. Maka beliau bersabda : “Apakah kedua orang tuamu masih ada?”
Orang itu berkata : “Ya!” Beliau bersabda :
“Maka kepada keduanya, berjihadlah engkau.” (HR. Bukhari nomor 5972
dan Muslim nomor 2549)
Masih dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ia berkata : Seorang lelaki datang
kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian berkata : “Aku datang
untuk berbaiat kepadamu untuk hijrah dan aku tinggalkan kedua orang
tuaku dalam keadaan menangis.” Mendengar hal itu, Nabi bersabda :
“Kembalilah engkau kepada keduanya. Maka buatlah keduanya tertawa
sebagaimana sebelumnya engkau telah membuatnya menangis.” (HR. Abu
Dawud nomor 2528 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam
Shahih Abu Dawud nomor 2205)
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, ia berkata : Seorang lelaki datang
kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, kemudian berkata : “Wahai
Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku sikapi dengan baik?”
Beliau bersabda : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab : “Ibumu.” Lalu orang itu bertanya lagi : “Kemudian
siapa?” Beliau berkata : “Ayahmu.” (HR. Bukhari nomor 5971 dan
Muslim nomor 2548)
Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“Seorang anak tidak bisa membalas kebaikan orang tuanya kecuali jika dia
mendapati orang tuanya sebagai budak, kemudian ia beli dan
membebaskannya.” (HR. Muslim nomor 1510)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu 'anhu, ia berkata : Aku pernah
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Amalan apakah
yang paling disukai Allah?” Beliau menjawab : “Shalat tepat pada
waktunya.” Aku katakan : “Kemudian apa?” Beliau menjawab : “Birrul
Walidain (berbuat baik kepada orang tua).” Aku katakan : “Lalu apa?” Beliau
menjawab : “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari nomor 5970 dan Muslim
nomor 139)
‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Semoga terhina, semoga terhina, semoga terhina, orang yang mendapati
kedua orang tuanya telah tua salah satunya atau keduanya tapi dia tidak
bisa masuk Surga (karena keduanya, pent.).” (HR. Muslim nomor 2551)
Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendoakan orang
seperti itu agar terhina, maka bagaimana lagi kalau Nabi sudah berdoa?

Hadits-Hadits Yang Melarang Berbuat Durhaka Kepada
Kedua Orang Tua
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Tiga orang yang tidak akan dilihat Allah di hari kiamat adalah orang yang
durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan
dayyuts (pria yang membiarkan istrinya bermaksiat). Dan tiga jenis orang
yang tidak masuk Surga adalah orang yang durhaka kepada kedua orang
tuanya, peminum (pecandu) khamr, dan pengungkit-ungkit pemberian bila
diberi.” (Lihat Shahihul Jami’ nomor 3066 dan Ash Shahihah nomor
674)
Dari Mughirah bin Syu’bah radliyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu,
mengubur anak wanita hidup-hidup, tidak mau menunaikan yang wajib, dan
mengambil yang bukan haknya dari barang milik orang lain.” (HR. Bukhari
nomor 5975 dan Muslim nomor 539)
Abu Bakrah menceritakan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang
paling besar?” (Beliau mengulanginya sampai tiga kali). Maka kami berkata :
“Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda : “Menyekutukan Allah dan
durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu beliau bersandar kemudian
duduk sambil berkata : “Ketahuilah begitu juga dengan ucapan dusta dan
saksi dusta.” Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami berkata :
“Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari nomor 2653 dan Muslim nomor
87)
Dari Muadz bin Jabbal radliyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam memberiku sepuluh wasiat, beliau bersabda : “Janganlah
engkau mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun walau engkau
dibunuh dan dibakar hidup-hidup, jangan sekali-kali engkau durhaka kepada
kedua orang tuamu walau keduanya menyuruhmu keluar dari keluargamu
dan hartamu … .” (HR. Ahmad, dihasankan Asy Syaikh Al Albani dalam
Shahihut Targhib nomor 567)

Contoh Dari Para Nabi
Ketika menuju Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melewati
daerah bernama Abwa’ yang di tempat itu ibunya dikuburkan. Saat itu beliau
ditemani oleh para shahabat dan pasukan yang berjumlah seribu
penunggang kuda berbaju besi. Maka beliau menyempatkan ziarah ke kubur
ibunya dan menangis sehingga para shahabat di sekitar beliau ikut
menangis. Beliau bersabda :
“Aku meminta ijin kepada Rabbku agar diperbolehkan memohonkan ampun
untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengijinkan. Dan aku meminta ijin untuk
menziarahinya dan diijinkan. Maka ziarahilah kubur karena itu akan
mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim nomor 976 dan Abu
Dawud nomor 3234 dan lain-lain)
Subhanallah, rasa kasih dan sayang Nabi kita Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
muncul ketika melewati tempat dikuburnya sang ibu yang wafat pada saat
usia beliau masih kanak-kanak, empat tahun. Oleh karena itu beliau
menangis. Dan tangis beliau membuat seribu pasukan ikut menangis. (Dari
kitab Wabil Walidaini Ihsana, karya Su’ad Muhammad halaman 32)
Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, bapaknya para Nabi begitu lemah lembut
menasehati dan mendakwahi ayahnya kepada hidayah walau sang ayah
telah menyakitinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan ucapan Nabi
Ibrahim ‘Alaihis Salam kepada ayahnya :

“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang padaku sebagian ilmu
pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku. Niscaya aku
akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam : 43)
“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir engkau akan ditimpa adzab dari
Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi syaithan.”
(Maryam : 45)
Kata ‘ya abati’ adalah kata yang paling tinggi dalam penghormatan kepada
ayah. Dan dengan kata ini, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam berbicara dengan
ayahnya.

Mengapa Engkau Menyembunyikan Kebaikan?
Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sikap yang mulia. Keutamaan
keduanya telah lewat keterangannya. Ingatlah ketika engkau lemah.
Wahai Rabbku! Rahmatilah keduanya sebagaimana keduanya telah
menyayangiku di waktu kecil.
Ibumu telah mengandungmu di perutnya selama sembilan bulan dalam
penderitaan yang berganda. Ia mengandungmu dalam keadaan susah dan
melahirkanmu dalam keadaan payah. Umurmu yang bertambah semakin
menambah berat baginya. Ketika melahirkanmu seakan-akan kematian ada
di depan matanya. Tapi ketika dia melihatmu di sisinya, sirnalah dengan
cepat semua rasa sakit dan susahnya. Ia gantungkan padamu semua
harapannya … . Ia melihat padamu ada cahaya hidup dan keindahannya … .
Kemudian ibumu sibuk melayanimu siang malam. Ia korbankan
kesehatannya untukmu. Air susunya menjadi makananmu … . Pelukannya
menjadi rumahmu. Tangan, punggung, dan dadanya menjadi tempat
tungganganmu. Ia menjaga dan mengawasimu. Ia rela lapar asal engkau
kenyang. Rela begadang asal engkau tidur. Ia sangat cinta dan sayang
padamu.
Jika ia hilang darimu, engkau memanggilnya. Jika kau tertimpa sesuatu yang
menyusahkan, kau minta tolong padanya. Dalam anggapanmu, setiap
kebaikan ada padanya. Engkau anggap bahaya tidak akan menimpamu jika
engkau dalam pelukannya atau kalau ia memperhatikanmu.
Adapun ayahmu, karena kamu, ia menjadi penakut dan kikir. Ia berusaha
untukmu. Agar engkau tidak tersakiti, ia berpindah-pindah bepergian jauh.
Ia tempuh daerah datar dan tinggi sambil menghadapi bahaya. Hanya untuk
mencari sesuap nasi kehidupan untuk diberikan padamu. Ia merawat dan
mendidikmu. Jika engkau datang padanya, engkau merasa senang dan ia
pun senang. Jika ia keluar, engkau merasa bergantung padanya. Jika ia
pulang, engkau peluk pinggangnya dengan erat … . Kau takut-takuti orang
dengan ayahmu. Dan kau ancam mereka dengan perbuataan ayahmu … .
Itulah mereka berdua dan itu masa bayi dan kecilmu, maka mengapa
engkau enggan berbuat baik? Mengapa engkau jadi kaku dan kasar?
Seakan-akan hanya engkau yang diberi nikmat.
Sesungguhnya perangai yang jahat dan kecelakaan serta kerugian kalau
orang tua dikejutkan dengan perbuatan anak yang enggan berbuat baik
kepada mereka. Keduanya telah berbuat baik, tapi orang yang celaka ini
pura-pura lupa kelemahan dan masa kecilnya. Dia merasa sombong dengan
keadaan dan keahliannya. Dia tertipu dengan ilmu dan wawasannya.
Menyombongkan wibawa dan kedudukannya. Dia menyakiti ibunya dengan
kata-kata yang pedas dan gerutu. Menyikapi keduanya dengan jelek dan
dengan ucapan yang keji. Dia bentak dan hardik keduanya. Bahkan kadangkadang
dia tega menampar dan menendang keduanya. Keduanya berharap
sang anak hidup, tapi sang anak berharap keduanya cepat mati. Seakanakan
keduanya berharap jadi pasangan yang mandul saja dulunya.


Rasa Hormat Menangisi Keduanya
Hai orang yang celaka! Bukankah kalau telah tua keduanya butuh
kepadamu? Tapi kau sia-siakan mereka?! Kau lebih mendahulukan yang lain
dari keduanya dalam berbuat baik. Dan kau lupakan keduanya … . Apakah
kau tidak tahu bahwa orang yang berbuat baik kepada kedua orang tua
nantinya akan ditaati oleh anaknya? Dan sebaliknya kalau dia durhaka
kepada kedua orang tuanya, anaknya nanti juga akan durhaka kepadanya.
Kau juga nantinya akan butuh kepada kebaikan anak-anakmu. Dan mereka
akan memperlakukanmu seperti perlakuanmu kepada kedua orang
tuamu. Sebagaimana engkau bersikap, demikian juga engkau
disikapi. Dan balasan itu karena amalan. (Dinukil dari Wabil Walidaini
Ihsana halaman 37-39)
Dikisahkan, suatu hari ada seorang ayah yang tua diajak pergi ke sebuah
lembah oleh anaknya. Ketika sampai di lembah sunyi itu, sang anak berkata
: “Wahai ayah, aku akan menyembelihmu di sini.” (Subhanallah, anak
menyembelih anaknya!!) Maka sang ayah berkata : “Wahai anakku, sebelum
engkau menyembelihku, kuberitahukan kepadamu bahwa dulu aku pernah
menyembelih ayahku di sini!” (Dinukil dari kaset Hakadza ‘Allamatnil
Hayah)
Memang … .
“Bagaimana engkau bersikap, demikian engkau akan disikapi.”

Beberapa Contoh Dari Para Salaf
Ibnul Munkadir berkata : “Saudaraku ‘Umar menghabiskan malamnya
dengan shalat, tapi aku menghabiskan malamku dengan mengurut kaki
ibuku. Dan malamku dengan seperti itu lebih aku sukai dari malam
saudaraku itu.” (Dari kitab Siyar A’lamin Nubala’ 5/405)
Ibnul Hasan At Tamimi ingin membunuh seekor kalajengking tapi ternyata
hewan itu masuk ke lubang. Maka Ibnul Hasan memasukkan jarinya ke
lubang itu untuk membunuhnya, akhirnya dia disengat. Maka ada yang
bertanya kepadanya. Dia menjawab : “Aku takut kalau hewan itu keluar dan
menyengat ibuku.” (Siyar A’lamun Nubala’ 541)
Ibnu ‘Aun Al Muzani pernah dipanggil ibunya maka suaranya mengalahkan
suara ibunya (lebih tinggi). Karena perbuatan tersebut, dia membebaskan
dua budak. Qurrah bin Khal berkata : “Kami ketika itu kagum kepada sifat
wara’-nya Muhammad bin Sirrin, maka perbuatan Ibnu ‘Aun membuat kami
lupa kepadanya.” (Tahdzib Siyar A’lamin Nubala’ 544)
‘Abdullah bin Ja’far bin Khaqun Al Marwadzi berkata : “Aku hendak keluar
(setelah mengumpulkan hadits Bashrah) namun ibuku melarangku. Maka
aku taat padanya sehingga aku diberkahi karenanya.” (Siyar A’lamin
Nubala’ 12/145)
Kata Ja’far Al Khalidi, Abbar adalah seorang ulama hadits di Baghdad dan dia
seorang yang zuhud. Suatu saat dia meminta ijin kepada ibunya untuk rihlah
(safar menuntut ilmu) ke Qutaibah. Tapi sang ibu tidak mengijinkannya.
Kemudian ibunya wafat. Maka mereka mengunjunginya karena itu. Ia
berkata : “Ini buah ilmu, yaitu aku memilih ridla ibuku.” (Siyar A’lamin
Nubala’ 13/443)
Ibnul Jauzi berkata : “Sampai kepada kami cerita tentang ‘Umar bin Dzarr.
Ketika anaknya wafat, ada yang bertanya kepadanya : “Bagaimana bakti
anak itu padamu?” Dia menjawab : “Kalau di siang hari, dia selalu jalan di
belakangku. Dan kalau malam hari dia selalu jalan di depanku. Dia tidak
pernah tidur di tempat yang lebih tinggi dariku.”
Abu Hurairah, jika keluar dari rumahnya selalu berhenti di depan pintu
ibunya sambil berkata : “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
wahai ibuku!” Dan ibunya menjawab : “Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi

wa barakatuh, wahai anakku!” Abu Hurairah lalu berkata : “Semoga Allah
menyayangimu sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil.” Maka
ibunya berkata : “Semoga Allah juga menyayangimu sebagaimana engkau
telah berbuat baik kepadaku di masa tuaku.”
Anas bin An Nadhr berkata : “Ibunya Ibnu Mas’ud meminta air kepadanya di
sebagian malam, maka ketika dia datang membawa air dia dapati ibunya
telah tidur. Maka dia tetap memegang air di arah kepalanya sampai pagi.”
Al Hasan bin ‘Ali tidak mau makan bersama ibunya. Dan dia adalah orang
yang paling baik kepada ibunya. Ketika ada yang menanyakan kepadanya
tentang hal itu, dia menjawab : “Aku khawatir kalau aku makan dengan
ibuku karena aku tak tahu kalau sampai aku memakan makanan yang
disukainya.” (Dinukil dari kitab Birul Walidain Ibnul Jauzi halaman 53-
55 dan Wabil Walidaini Ihsana halaman 40-43)

Antara Orang Tua Dan Istri
Sering kita dengar seorang pria tertipu hingga dia menganggap istrinya
sebagai tempat akhir pemuliaan, sementara itu dia meremehkan ibunya dan
dia memandang ibunya dengan pandangan permusuhan.
Karena ikatan anak dengan kedua orang tua adalah ikatan darah, nyawa,
cinta, dan keturunan. Sedangkan ikatan dengan istrinya hanya ikatan cinta,
kasih, dan sayang, maka janganlah dia lebih mementingkan istrinya dan
mengabaikan kedua orang tuanya. Dia wajib berusaha sekuat tenaga untuk
menimbulkan sikap saling mengerti. Dan hendaknya sang istri mengalah
karena hak kedua orang tua lebih besar dan agung dan agar sang suami
tidak terpaksa menceraikannya.
Ada seseorang datang kepada Abu Darda’ radliyallahu 'anhu sambil berkata :
“Ayahku terus bersamaku hingga dia menikahkanku. Dan sekarang dia
menyuruhku untuk menceraikan istriku.” Abu Darda’ berkata : Aku tidak
menyuruhmu untuk durhaka kepada kedua orang tuamu dan tidak
menyuruhmu untuk menceraikan istrimu. Kalau kamu mau aku akan
beritakan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam. Beliau pernah bersabda :
“Ayah adalah tonggak dari pintu-pintu Surga. Maka jagalah pintu itu jika kau
ingin atau tinggalkan.” (HR. Tirmidzi nomor 1900 dan dishahihkan Asy
Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi)
Janganlah seorang lelaki menganggap ucapan istrinya dan khabar-khabar
darinya dengan pasti hingga dia menetapkan hukum atasnya. Khususnya
kalau ucapan itu mengandung pencelaan kepada seseorang, apakah dalam
keluarga atau di luar anggota keluarga. Tapi hendaklah dia meneliti benar
atau salah sebelum dia mempercayainya. Dan dia bisa lihat dalam Al Qur’an
bahwa kesaksian dua wanita sebanding dengan satu pria, sebagai peringatan
dan nasehat. (Wabil Walidaini Ihsana halaman 56-57)


Jika Kedua Orang Tua Telah Tiada
Bila kedua orang tua telah tiada maka kita berbuat baik kepada temantemannya,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Siapa yang ingin menyambung hubungannya dengan ayahnya di kubur,
hendaklah ia menyambung hubungan dengan teman-teman ayahnya
sepeninggalnya.” (Lihat Ash Shahihah nomor 1432)
Ibnu ‘Umar radliyallahu 'anhu berkata : Seseorang datang kepada Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian berkata : “Aku telah berdosa besar,
maka apakah aku bisa bertaubat?” Beliau bersabda : “Apakah engkau
memiliki ibu?” Orang itu menjawab : “Tidak.” Beliau bersabda lagi : “Apakah
engkau masih memiliki bibi (saudara wanita ibu)?” Orang itu menjawab :
“Ya.” Lalu Nabi bersabda : “Kepadanyalah engkau berbuat baik.” (HR.
Tirmidzi nomor 1905. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih Sunan Tirmidzi)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah berkata :
“Bibi itu kedudukannya seperti kedudukan ibu.” (HR. Bukhari nomor
4251)
Ibnu Dinar menceritakan bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallahu
'anhuma bila keluar ke Makkah menunggangi keledai dan memakai sorban di
kepalanya. Pada suatu hari ketika dia berada di atas keledainya, ia melewati
seorang Arab Badui, maka orang itu berkata kepadanya : “Bukankah engkau
fulan anak fulan?” Abdullah bin ‘Umar menjawab : “Benar.” Lalu Ibnu ‘Umar
turun dan memberikan keledai dan sorbannya kepada orang itu seraya
berkata : “Naikilah keledai ini dan ikatlah kepalamu dengan sorban ini.”
Mengetahui kejadian itu, sebagian teman-teman Ibnu ‘Umar berkata
kepadanya : “Semoga Allah mengampunimu, engkau berikan keledaimu dan
sorban di kepalamu kepada orang itu sedangkan engkau membutuhkannya?”
Maka ia menjawab : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
bersabda :
“Sesungguhnya sebaik-baik kebaikan adalah seseorang menyambung
hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya setelah dia (ayah) wafat.”

Dan ayahnya orang Badui ini adalah temannya ‘Umar radliyallahu 'anhu.
(HR. Muslim)
Aisyah radliyallahu 'anha berkata : “Aku tidak pernah cemburu kepada para
istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam seperti cemburuku kepada Khadijah,
walau tidak pernah sekalipun aku melihatnya. Tapi Nabi sering menyebutnyebutnya.
Kadang beliau menyembelih kambing kemudian mengambil
beberapa potong dan beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah. Pernah
aku berkata kepada Nabi : “Seakan-akan tidak ada di dunia ini kecuali
Khadijah!” Maka beliau bersabda : “Dia demikian dan demikian dan aku
mendapat anak darinya.” (HR. Bukhari 7/102-103 dan Muslim nomor
2435 dan 2437)


Beberapa Nasihat Tentang Berbuat Baik Kepada Kedua
Orang Tua
1. Berbicaralah kepada kedua orang tua dengan adab. Dan janganlah
engkau membentak keduanya. Dan ucapkanlah perkataan yang mulia.
2. Taatilah kedua orang tuamu selain dalam perkara maksiat, karena
tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Allah.
3. Berlaku lembutlah kepada keduanya dan janganlah engkau bermuka
masam dan jangan melihat dengan marah.
4. Jagalah nama baik, kehormatan, dan harta kedua orang tuamu. Dan
jangan engkau mengambil tanpa ijinnya.
5. Lakukanlah apa yang menyenangkan keduanya walau tanpa perintah
keduanya, seperti membantu pekerjaan, belanja keperluan, dan
bersungguh-sungguh dalam belajar.
6. Bermusyawarahlah dengan keduanya dalam semua pekerjaanmu dan
mintalah maaf kepada mereka kalau kau terpaksa tidak cocok.
7. Penuhi panggilan keduanya dengan cepat disertai wajah penuh
senyuman dan berkatalah ‘ya abi’, ‘ya ummi’, dan jangan dengan ‘ya
papa’, ‘ya mama’. Karena itu bahasa ajnabi (asing).
8. Muliakan tamu mereka dan kerabat mereka ketika mereka hidup dan
setelah wafat.
9. Jangan kau debat dan jangan salah-salahkan mereka dan gunakan
adab untuk menerangkan yang benar kepada mereka.
10. Jangan kau lawan mereka. Dan jangan kau tinggikan suaramu melebihi
suara mereka. Diamlah kalau mereka berbicara. Beradablah kepada
keduanya dan jangan engkau membentak saudara-saudaramu karena
menghormati keduanya.
11. Sambutlah kedua orang tuamu kalau mereka datang dan kecuplah
kening keduanya.
12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu.
13. Jangan kau pergi kalau keduanya tidak mengijinkan walau untuk urusan
yang penting. Jika kau terpaksa mintalah udzur kepada mereka. Dan
jangan putus dalam menulis surat kepada mereka.
14. Jangan kamu masuk ke dalam kamar keduanya tanpa seijin keduanya,
terlebih waktu tidur dan istirahat.
15. Jangan mengambil makanan sebelum mereka. Muliakan mereka dalam
makan dan minum.
16. Jangan mendustai keduanya. Jangan engkau cela bila keduanya berbuat
yang tidak menyenangkanmu.
17. Jangan kau lebih memuliakan istri dan anak-anakmu melebihi mereka.
Mintalah keridlaan mereka dalam segala sesuatu. Karena ridla keduanya
adalah juga keridlaan Allah dan kemurkaan keduanya adalah kemurkaan
Allah.
18. Jangan engkau membangga-banggakan jabatanmu kepada ayahmu,
walau engkau menyandang jabatan yang tinggi. Dan hati-hatilah kalau
sampai mengingkari kebaikan keduanya atau menyakiti mereka walau
dengan sepatah kata.
19. Jangan bakhil dalam memberi nafkah kepada kedua orang tuamu hingga
akibatnya mereka mengadu kepadamu. Ini suatu aib bagimu. Dan itu
akan engkau lihat dan alami pada anak-anakmu. Sebagaimana engkau
bersikap, seperti itu juga engkau akan disikapi.
20. Sering-seringlah mengunjungi dan memberi hadiah kepada keduanya.
Dan berterimakasihlah kepada mereka karena mereka telah
mengasuhmu dengan susah payah. Dan contohkanlah itu kepada anakanakmu.
21. Manusia yang paling berhak untuk engkau utamakan adalah ibumu
kemudian ayahmu. Dan ketahuilah bahwa Surga berada di bawah
telapak kaki ibu.
22. Hati-hati, jangan sampai engkau durhaka kepada mereka. Dan jangan
membuat mereka marah, karena engkau akan celaka di dunia dan di
akhirat. Dan anak-anakmu kelak akan menyikapimu seperti sikapmu
terhadap orang tuamu.
23. Bila engkau meminta sesuatu kepada mereka mintalah dengan lembut
dan berterimakasihlah kalau diberi. Dan mohon maaflah kalau tidak
diberi, janganlah banyak meminta agar keduanya tidak merasa susah.
24. Jika kamu mampu mencari rejeki di waktu pagi, kerjalah dan bantulah
mereka.
25. Sesungguhnya kedua orang tuamu memiliki hak atasmu. Dan istrimu
juga. Berilah setiap yang berhak akan haknya. Usahakan merukunkan
keduanya bila berselisih.
26. Jika keduanya bertengkar dengan istrimu, jadilah orang yang bijaksana
dan pahamkan istrimu bahwa engkau di pihaknya kalau dia benar dan
engkau terpaksa agar keduanya ridla.
27. Jika istrimu berselisih dengan orang tuamu dalam masalah nikah dan
talak, maka berhukumlah dengan syariat karena itu sebaik-baik
pembantu kalian.
28. Doa orang tua terkabul dalam perkara yang baik maupun yang jelek,
maka hati-hatilah terhadap doa jelek mereka.
29. Beradablah terhadap manusia, karena siapa yang mencela manusia, dia
juga akan mendapat cela dari mereka. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“Termasuk dosa besar adalah anak mencela kedua orang tuanya, yaitu dia
mencela ayah orang lain, maka orang itu balas mencela ayahnya. Dan dia
mencela ibu orang lain, maka orang itu mencela ibunya.” (HR. Bukhari
10/330 dan Muslim nomor 90)
30. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika masih hidup. Perbanyaklah

berdoa untuk mereka dengan mengucap :
“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Wahai Rabbku,
rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil.”
(Taujihat Islamiyyah karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu halaman
71-74)

Penutup
Aku berharap dengan tulisan ini agar menjadi :
ðH Pengajaran bagi yang tidak mengerti hak-hak kedua orang tua.
ðH Peringatan bagi yang lupa tentang salah satu pintu dari pintu-pintu
menuju Surga yang hampir tertutup.
ðH Bantuan bagi yang meremehkannya.
ðH Ancaman bagi yang durhaka yang hampir terjerumus ke jurang
neraka.
Aku berlindung kepada Allah dari durhaka kepada orang tua.
Dah aku berharap kepada-Mu, Ya Allah, agar mengampuni kedua orang
tuaku dan merahmati mereka sebagaimana keduanya mendidikku di waktu
kecilku.
Dan agar Engkau memberikan balasan yang baik kepada kedua orang tuaku
seperti apa yang Engkau berikan kepada kedua orang tua karena anaknya.
Dan agar Engkau mengampuni kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan,
kelancangan, dan kekuranganku.
”Maha Suci Engkau, Ya Allah dan segala pujian untuk-Mu. Aku bersaksi
bahwa tidak ada illah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau. Aku
mohon ampun pada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.”
(Dinukil dari Wabil Walidaini Ihsana halaman 74)
Wallahu A’lam Bis Shawab.
(Kuhadiahkan tulisan ini untuk ayah dan ibuku yang aku cintai :
Ismail Piliang dan Nurnani Sikumbang)
Yogya, Ramadlan 1417 H.
"Janganlah engkau melayani kedua orang tuamu dalam keadaan malas."
Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).

Sabtu, 08 Agustus 2009

Ke ahlian bidang yang ku jalanin skr ini sangat bergantung dari


bagai mana mencari orang yang tepat dan kompeten.

ilmu memilih orang ini

Selasa, 28 Juli 2009

Jangan terkecoh dengan keberhasilan seseorang. Di balik kejayaan selalu ada jalan panjang yang berisikan catatan perjuangan dan pengorbanan. Keringat dan kepayahan. Tak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan. Bila anda terpesona pada kenyamanan yang diberikan oleh kesuksesan, anda bisa lupa

dari keharusan untuk berupaya. Namun, bila anda terkagum pada ketegaran seseorang dalam berusaha, anda menyerap energi kekuatan, keberanian dan kesabaran. Tak ada harga diskon untuk sebuah keberhasilan. Berusahalah terus. Pohon besar mampu menahan terjangan badai karena memiliki batang dan akar yang kokoh. Belasan tahun diperlukan untuk menumbuhkan dan melatih kekuatan. Bulan demi bulan, hujan menguatkan jaringan kayunya. Tahun demi tahun, pohon-pohon besar lain melindunginya dari terpaan hujan. Tak ada hitungan malam untuk mencetak sebongkah batang yang tegar. Tak ada hitungan siang untuk menumbuhkan akar yang kekar mencengkeram bumi. Hanya dengan kesabaranlah anda bisa meraih keberhasilan. Tumbuhkan kesabaran bukan sekedar kecepatan meraih sukses.
















Jika Indera kamu komplit,

Jika kamu sudah dianugerahi kaki, tangan dan panca indra yang komplit…

Maka Jangan Pernah Katakan :

“AKU INI SUSAH DAN TAK MAMPU”


































--------------------
Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.

Senin, 27 Juli 2009

Renungan

Sebagai ajaran yang sempurna Islam memperhatikan segala sesuatu hingga ke ruas tulang manusia. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan setiap Muslim untuk mensyukuri seluruh 360 ruas tulang yang Allah ta’aala telah berikan ke dalam tubuhnya. Bentuk rasa berterimakasih itu diungkapkan dalam bentuk bersedekah untuk setiap ruas tulang tersebut.

Dalam salah satu hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganggap perbuatan bersedekah untuk setiap ruas tulang badan manusia sebagai setara dengan membaca tasbih (ucapan Subhanallah), tahmid (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa ilaha illa Allah), takbir (ucapan Allah Akbar), memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Subhanallah...! Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan kepada ummatnya bahwa untuk bersedekah bagi setiap ruas tulang badan setiap pagi adalah cukup dengan menegakkan sholat sebanyak dua rakaat yang dikenal dengan nama Sholat Dhuha.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat dhuha.” (HR Muslim 1181)

Mengeluarkan sedekah untuk setiap ruas tulang badan merupakan ungkapan rasa syukur atau terimakasih kepada Allah ta’aala atas tubuh yang manusia miliki. Alangkah tidak berterimakasihnya seorang Muslim bilamana ia selama ini telah memanfaatkan tubuhnya untuk melakukan aneka aktifitas melelahkan namun tidak pernah seharipun menegakkan Sholat Dhuha. Wahai saudaraku, tegakkanlah Sholat Dhuha. Tunjukkanlah rasa syukur kepada Allah ta’aala atas seluruh ruas tulang tubuh yang selama ini telah kita pakai sampai seringkali menjadi sakit dan perlu perawatan kesehatan karena lelah bekerja...! Ingatlah, bahwa semakin sering kita bersyukur kepada Allah ta’aala, maka semakin banyak kenikmatan yang Allah ta’aala janjikan akan kita terima.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)

Dan sebaliknya, semakin jarang kita bersyukur, apalagi jika malah bersikap kufur maka Allah ta’aala mengancam dengan azabNya yang pedih. Pengertian azab tidak perlu ditunggu di alam kubur atau di akhirat saja. Artinya, orang yang kufur ni’mat akan mendapati -cepat atau lambat- sesuatu yang asalnya merupakan ni’mat malah berubah menjadi beban atau kutukan bagi hidupnya...! Contoh akan hal ini sangat banyak kita jumpai dalam realitas hidup kita.

Saudaraku, saya yakin semua kita bersepakat bahwa mengerjakan dua rakaat pada waktu dhuha bukanlah suatu perkara yang berat dan sulit. Maka, marilah kita ungkapkan rasa syukur kepada Allah ta’aala atas pemberianNya berupa 360 ruas tulang badan yang kita miliki. Marilah kita berlomba menjadi hamba-hamba Allah ta’aala yang rajin bersyukur.

فِي الْإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلَاثُ مِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً قَالُوا فَمَنْ الَّذِي يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوْ الشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ

“Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk setiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya: ”Siapalah yang mampu melaksanakan seperti itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: ”Dahak yang ada di masjid lalu dipendam ke tanah, dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti seuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Ahmad 21920)

Pesen papa satu lagi ketinggalan

Jangan berbohong dan menipu.


lebih baik tengadah kan tangan dari pada berbohong atau menipu. cari yang halal hala saja,

Pesan papa

  • Cari & pilih kehidupan lebih baik agar bisa pulang kampung. kalo ga bisa pulang kampung, berarti payah di rantau. biar terpandang miliki mobil.
  • 4 racun kehidupan yang tidak di tekan kan papa, tidak akan tercapai cita2 jika
  1. Roko
  2. Padusi
  3. Judi
  4. Bar ( mabok, nongrong di cafe )
jangan sampe sering2 papa ingetin hal itu.


Okay dah.. sip dad.. I'll touch down one by one ;)

"kutipan" 4 rahasia

Rahasia Kaya Raya dr Orang yang sukses
Ini hasil copas dr trit sebelah, mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua :

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau ekoseorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

" Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."

"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ," tanya beliau.

"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."

"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.

"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."

"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi.

"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

"Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".

Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."

"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. "

Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Merasa "keadilan" yang dikatakan Al Qur'an hanya berupa keadilan material. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....

Jumat, 24 Juli 2009

hiduupp... mati..hidupp.. mati.... hidupp mati...


begitu lah terus menerus keaadaan ini dari beribu ribu tahn lampau.


regenerasi... hilang...


manfaatkan lah hidup yang sekali ini di berikan kepada mu. bertindak lah yang terbaik untuk dunia mu (juga dunia orang sesudah km ) dan akhirat mu. berikan yang terbaik dalam kesempatan yang sekali ini ada pada mu.

Pesan seorang ibu yang di tinggal anak nya hidup sendiri

Pesan seorang ibu, ketika ditinggalin anaknya hidup sendirian :

"Dulu, ketika aku menikah, tidak pernah berpikir punya anak seperti apa, gimana jaganya, biayainya sekolah hingga lulus kuliah nanti... tapi kujalankan saja...

Ketika melahirkan dirinya, hampir diriku menyerah, tapi demi melihatnya lahir ke dunia ini, tumbuh besar dan menjadi anak yang berguna, aku terus berjuang, walaupun harus berkorban diri ini demi kehadiran dirinya di dunia ini...

Dia telah lahir ke dunia ini, pertama kali melihatnya, ada perasaan bergejolak di diriku, aku terharu dan bangga sekali bisa membawanya ke dunia ini, aku berjanji, apapun yang terjadi, gimanapun susahnya hidup ini, anak ini harus kubesarkan dengan kedua tanganku...

Tidak mudah untuk membesarkan dirinya, dia bandel sekali ketika kecil, suka bermain lupa waktu, berteman dengan anak-anak nakal, tidak mau makan, susah disuruh mandi, susah dibujuk tidur waktu malam hari, kadang dia marah dan bentak padaku, kadang dia mengejekku, kadang juga dia menghinaku...

Ketika besar, dia merasa diriku terlalu membatasi dirinya, ini tidak boleh, itu tidak boleh, dia juga merasa aku terlalu kolot, ketinggalan jaman, tidak mengerti apa maunya, tidak setuju terhadap setiap kelakuannya...

Kadang sakit hati sekali diriku ini, tapi ingat ketika pertama kali menggendongnya, ketika melahirkannya, semua sakit ini hilang seketika... dia adalah anakku, anak kesayanganku...

Aku telah berjanji akan membesar dirinya, apapun yang terjadi, rintangan apapun yang kuhadapi, karena dia anakku... Harapanku besar kelak dia bisa menjadi anak yang berguna... Aku cinta padamu, anakku...

Karena kau lah, yang memberikan kekuatan pada diriku, membuatku mau bekerja keras pagi-siang-sore-malam, tidak takut akan sakit, derita.. Karena kehadiran dirimu lah membuat diriku ada artinya, bisa membesarkan dirimu dan mendengarkanmu memanggilku IBU, sungguh senang rasanya hati ini...

Aku tidak berharap banyak, hanya suatu saat, ketika dirimu sudah besar, kamu dapat menjadi anak yang baik, bisa hidup yang enak. Ibu mungkin sudah tua, tidak bisa hidup lama lagi, badanku ini sekarat, kerutan muka sudah banyak, perjalananku tidak lama lagi.

Anakku, jika kamu bekerja keras, tidak perlu sampai memberikan rumah yang bagus, uang yang banyak, semuanya itu untuk dirimu saja. Ibu hanya berharap kamu mau menyisihkan sedikit waktumu untuk menemani masa-masa tua ibu, bisa disamping ibu dan ngobrol dengan ibu, itu sudah lebih dari cukup...

Ibu Bangga denganmu, nak, mungkin tidak pernah terucap lewat kata, tapi ini ibu rasakan dari lubuk hati yang dalam... Maafkan jika selama ini ibu pernah marah denganmu, memukulimu, melarangmu ini itu, semua ini demi kebaikanmu, nak...

Ibu Cinta padamu... dari dulu, sekarang, dan selamanya..."

Thx buat lagunya...